Sabtu, 19 April 2014

Salah siapa, aku atau kamu?

Salah siapa,
Aku yang terlalu berharap,
atau Kamu yang memberi harapan?

Salah siapa,
Aku yang terlambat,
atau Kamu yang meninggalkan aku?

Salah siapa,
Aku yang membiarkan kamu datang,
atau Kamu yang mendekat?

Salah siapa,
Aku yang diam,
atau Kamu yang pergi?

Salah siapa,
Aku yang mudah jatuh cinta,
atau Kamuyang membuatku jatuh terluka?

Salah siapa,
Aku yang terlalu setia,
atau Kamu yang terlalu memberi banyak kenangan?

Salah siapa,
Aku yang bodoh,
atau Kamu yang tidak memperjuangkan aku?

Salah siapa,
Aku yang menutupi perasaan,
atau Kamu yang tidak peka?

Salah siapa,
Aku,
atau Kamu? 

Jumat, 07 Maret 2014

Mencintai Dalam Diam

              Kesel banget ga ada kerjaan, jadi bikin ini deh. Here we gooooo! -----------

Dulu, dia masih sangat muda sewaktu mengenal yang namanya jatuh cinta. Cinta monyet, mungkin ini sebutan yang pantas untuk peristiwa yang dialaminya. Dia tidak terlalu menanggapi sebutan itu, yang di tau hanya bagaimana perasaan itu berawal.
***
Senin, 25 Mei 2009
Dear diary,
                Sebenernya gue malas untuk bercerita sama lo tentang apa yang gue lewati hari ini. Ya, apa lagi disebabkan olehnya, si Pendek. Gue heran, kenapa bisa begitu banyak cewek-cewek yang naksir dia. Padahal kan, sebenernya dia itu gak banget. Berasa lucu, padahal garing parah. Berasa cakep, padahal....., ah gak usah disebutin deh, bikin mood ancur.
                Lo tau ga yang paling memundak dari semua rasa kesal gue untuk dia? Dia dinobatkan menjadi teman sebangku gue. Great, bener-bener melengkapi kebahagian gue:)) Wali kelas emang paling jago untuk me-mix and match-kan teman sebangku gue. Beliau tau aja kalau gue girang banget sebangku dengannya. Hahaha padahal.............. Menangis darah setiap ingat ini.
                Well, well, well, mari bercerita yang lain. Hmm, hari ini Sabtu, lupain kalau Sabtu itu malam Minggu, waktunya bersantai-santai! Mungkin gue bakal melahap beberapa novel yang gue pinjem di dekat sekolah. Dan girang banget besok hari Minggu, gak harus ke sekolah. Horrray! Itu tandanya gue gak akan ketemu si Pendek!
***
Minggu, 20 September 2009
Dear diary,
                Capeeeeeek banget hari ini, PR menumpuk, dan susah banget tugasnya. Mau gak mau, besok gue sambung lagi di sekolah. Seengganya, inspirasi dan penyelesaian lebih baik berasal dari banyak kepala ketimbang dari kepala seorang. Lupakan tentang tugas, mari bercerita tentang yang lain. Yeay, si Pendek mulai melemah di hadapan gue, pinjam ini pinjam itu dan dia gak masalah. Kalau pun dia gak ngasih, siap-siap aja kena jitakan dari gue. Jahat ya gue? Huhuhu, habis seru sih liat dia tertindas. Kami sering berantem, tapi dia lebih sering ngalah. Gue perempuan perkasa! Hahaha.

Rabu, 4 November 2009
Dear diary,
                Ada apa dengan gue?!?!?! Rawwwwrrr!!!! Kenapa jadi si Pendek yang memenuhi tiap halaman diary gue?!?!?! Dan, gue baru menyadari hari ini. Pendek, bisa gak sih pergi dari pikiran gue? Hiks, apa gue kena kutukan dari dia, ya? Pendek, maaf ya, maaf, gue gak akan lagi deh sama lo, tapi mulai sekarang lo gak usah mampir di kepala gue lagi ya. Cukup di sekolah aja kita bertemu. *lemas*
***
Minggu, 14 Februari 2010
Dear lovely diary,
                Happy Valentine buat diary gue tercinta! Seneng banget soalnya lo udah nemenin suka dan duka gue selama ini, walaupun terkadang bosan juga ya denger cerita gue? Hehehe.
                Oh ya, hari ini, hari yang paling menyenangkan kayaknya buat si Pendek, dia mendapat banyak cokelat dari cewek-cewek di sekolah. Aih, aih, gue cuma dikasih dikit banget sama si Pendek, padahal kan, gue suka banget sama cokelat. Dasar si Pendek pelit!!!!
***
Kamis, 6 Mei 2010
                Ratih gak sengaja melihat diary-nya yang dulu tergeletak pasrah di antara buku-buku lamanya. Seperti ingin mengingat memori tempo dulu semasa SMP, dia pun membacanya. Begitu banyak kenangan akan si Pendek, yang dulu pernah menghiasi masa-masa SMP-nya. Sampai dia teringat kapan peristiwa cinta monyet itu berawal. Ya, semenjak dia tidak sebangku lagi dengan pria itu.
                Sebenernya aku gak peduli betapa kerennya dia di mata gadis-gadis lain, betapa pintarnya dia di antara teman-teman sekelasku, betapa jagonya dia di setiap pertandingan basket, dan betapa merdu suaranya yang keluar dari mulutnya sewaktu bernyanyi. Di awal aku menyukainya, dia adalah seorang yang biasa-biasa saja menurutku. Aku menyukainya dengan satu alasan, ya karena aku memang memilih untuk jatuh cinta padanya.
                Kata-kata ini berputar-putar di dalam pikiran Ratih. Dia tahu kalau Ryber-si Pendek tidak pernah mencintainya, dan dia memilih untuk mencintai Ryber dalam diam. Tidak terlalu banyak diungkapkan untuk seorang pria yang dicintainya, selama ini Ratih hanya bisa memberikan perhatian pada Ryber. Namun tetap saja, Ryber memang benar-benar tidak peka dengan perhatian Ratih, atau memang sengaja tidak menunjukkan kalau sebenarnya dia sudah tahu kalau Ratih jatuh cinta padanya? Entahlah.
                Seperti orang yang jatuh cinta pada umumnya, Ratih juga demikian. Ketika Ryber ada di hadapannya, jantungnya berdetak sesuka hati dengan tempo yang sedikit lebih cepat. Ketika Ryber jatuh cinta pada perempuan lain, dan bukan jatuh cinta dengannya, dia pun merasa cemburu. Tapi, Ratih tetap mencintai Ryber dalam diam.
Baru ku sadari, cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku
Semoga waktu akan mengilhami sisi hatimu yang beku
Semoga ada datang keajaiban
Hingga akhirnya kau pun tahu
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu
(Dewa 19-Pupus)

Lamunan panjang Ratih diwarnai dengan iringan sendu sebuah lagu. Entah kenapa tadi dia begitu semangat untuk menggali memori tentang Ryber lewat diary kesayangannya itu. Tapi, kini dia menyesali perbuatannya itu. Air mata Ratih dengan manisnya jatuh membasahi sela-sela pipinya. Bukan menangis karena tidak pernah bisa menjadi pacarnya Ryber, tapi menangis karena sampai saat ini dia tidak bisa berhenti mencintai Ryber.
                Sudah satu tahun Ratih tidak pernah bertemu lagi dengan Ryber. Mereka berada dia dua SMA yang berbeda. Awalnya, Ratih merasa yakin bahwa dia pasti bisa melupakan sosok Ryber dari kehidupannya, karena tidak ada lagi kesempatan untuk bertemu dengannya setiap hari seperti dulu, tidak ada momen-momen bersama Ryber yang mungkin akan dia ingat di sekolah ini, dan pastinya kesibukan semasa SMA akan membuatnya tidak sempat memikirikan sosok Ryber. Dan, kebetulan memang waktu tidak pernah dengan sengaja mempertemukan mereka.
***
3 Maret 2012
                Kesibukan Ratih semakin menjadi-jadi, apalagi sekarang dia sudah diambang UN. Sebentar lagu akan memasuki tahap yang lebih tinggi.
                Ratih berlari tergesa-gesa untuk sampai ke salah satu ruangan bimbingan belajar di dekat sekolahnya. Ini adalah hari pertamanya belajar di tempat itu.
                “Seharusnya aku tidak perlu pulang ke rumah dulu kalau aku tau bakal telat seperti ini.” Ratih berkomentar pada dirinya sendiri.
                Tepat di depan ruangan, dia tidak langsung masuk, perlahan-lahan dia mengatur naasnya, setelah napasnya kembali teratur dia pun masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata, Indras, sudah lebih dulu beradandi ruangan itu dan awalnya mereka janjian untuk duduk bersama. Tapi dalam kenyataan, Ratih sudah sangat terlambat, tidak akan sempat mencari-cari di mana Indras duduk. Sambil merapikan rambutnya yang agak berantakan, dia langsung menduduki salah satu bangku kosong agak dibelakang. Tanpa memerhatikan siapa yang ada di sampingnya, dia mengeluarkan beberapa alat tulisnya, ingin segara fokus dengan apa yang diajarkan di depan.
                “Ratih,” sapa seseorang yang ada di sampingnya.
                Seketika Ratih menoleh ke sumber suara. Tuba-tiba napas yang semula sudah bekerja dengan teratur menjadi kembali tidak teratur. Ini seperti mimpi, si Pendek tepat di hadapannya.
                “Hei, Ryber,” jawab Ratih menyembunyikan kegugupannya.
                ‘Ya ampun, kamu masih saja kurus ya, hahaha.” Ryber tertawa setengah suara, karena takut teman-teman yang lain merasa terganggu.
                Pletak.
                Ratih menjitak kepala Ryber.
                “Aduh, kebiasaanmu juga masih sama, suka menjitak kepalaku,” Ryber mengelus-elus kepalanya.
                Haloooo, dipastikan aku tidak akan bisa berkonsentrasi dengan pelajaran hari ini. Jantungku saja sedang asik berdetak menimbulkan suara tidak teratur, apalagi pikiranku, wajah boleh melijat ke depan, tapi pikiran dan hati tertuju ke samping. Mama, maafkan anakmu ya, hari ini aku ingin menikmati perasaan klasik dengannya.

***
                Ratih tidak tahu harus merasa senang apakah sedih, mengetahui bahwa dia akan semakin sering bertemu dengan Ryber, si cinta peratamanya, si cinta monyetnya, dan  entah apa pun itu sebutannya, dia tidak peduli.
                Tapi, satu kesenangan yang Ratih tahu tentang Ryber adalah kejombloannya. Seperti matahari merekah di pagi hari, seperti angin bertiup kencang, seperti mimpi-mimpi indah di tiap malamnya, mengetahui bahwa Ryber jomblo.
                “Ndras, itu cowok yang sering aku ceritain ke kamu,” ceritaku pada Indras.
                “Ya ampun, akhirnya kamu bisa juga bertemu dengan dia setelah bertahun-tahun lamanya.”
                “Ayo aku kenalin kamu sama dia.”
                “Hahahaha ayo...”
                Ponsel Ratih berdering. Tanda ada SMS masuk. Ternyata SMS dari Ryber, dengan semangat Ratih membukanya.
                -Tih, kok nomor HP Indras ga bisa dihubungi ya?-
                Ratih pun membalas SMS Ryber.
                -HP-nya ketinggalan di rumah Ry, dia kan ke pucak hari ini. Emang ada apa?-
                Ryber tidak membalas SMS Rtih lagi. Ratih sedikit merasa sedih, tetapi dalam hatinya tidak apa, yang penting Ryber sudah meninggalkan satu SMS di HP-nya malam ini. Itu sudah lebih dari cukup baginya.

Kamis, 24 Mei 2012
                -Ry, aku udah lama banget suka sama kamu-
                SMS itu pun sampai ke HP Ryber. Seketika Ratih merasa sudah berbuat kesalahan fatal. Kenapa dia bodoh sekali mengirimkan SMS seperti itu. Ratih mulai panik, SMS itu tidak bisa dibatalkan, taua dihapuskan. Tinggal menunggu balasan dari Ryber saja dan kalian tahu, jantung Ratih hampir copot. HP-nya bergetar, ada SMS dari Ryber.
                -Oo gitu-
                “Oh my God, jawabannya singkat banget. Ternyata benar-benar dia tidak punya perasaan apa-apa padaku. Hmm, coba aku SMS lagi,” kata Ratih dalam hatinya.
                -Kau tidak marah kan karena aku mengatakan itu padamu?-
                Beberapa detik kemudian, SMS dari Ryber datang lagi.
                -Ya ngga lah. Itu kan hak kamu.-
                Di hari itu adalah hari terakhir Ratih mengirimkan SMS kepada Ryber. Ratih berjanji gak akan menganggu Ryber lagi.


                “Memang lebih baik mencintai dalam diam.” pikir Ratih.

Kamis, 04 Juli 2013

Life is always about choice

Hai, selamat malam! 
Malam ini mau nulis cerita. K, enjoy.

***
         Hari ini adalah hari pertama gue masuk sekolah setelah 3 minggu kemarin libur. Ya, hari ini gue udah kelas 8. Teman kelas gue beda dari teman kelas 7. Gue punya banyak teman baru, salah satunya... Alda. Apa kalian berpikir Alda adalah seorang perempuan? Bukan, dia seorang lelaki.
         Dulu, dia adalah anak 7A, dan gue sendiri 7E. Awal kali gue ngeliat dia, dia adalah sosok yang humoris dan.....ah, dia istimewa. Setelah beberapa minggu sekelas, kita semakin dekat. Kita saling bertukar pin bb dan....kita semakin dekat oleh bbm. Too mainstream, rite? Lol. Hingga akhirnya muncul perasaan yang tidak biasanya. 
         Hari berganti hari, hingga saat tanggal 28 Juli Alda memutuskan untuk menembak gue melalui...bbm. Ah, dia payah. Setelah berpikir panjang, gue memutuskan untuk menjawab "ya:)". Gue selalu malu tiap bahas ini.
         Bulan berganti bulan, hingga saat ini adalah tepat 4 bulan gue dengan dia, 28 November. Gue semangat untuk berangkat sekolah hari ini. Seperti biasa, di kelas, gue selalu ngobrol dengan Alda. Huh, pelajaran hari ini membosankan, apalagi pelajaran biologi. Untungnya, Bu Tia gak berangkat ngajar, dan kelas pun....free. Dan betapa bahagianya setelah tau kalau Alda udah nyiapin sesuatu, dia ngasih bunga mawar. Saik, sok romantis dia.
         
***
         Gak nyangka, sekarang udah 6 bulan. Gue pikir hubungannya ga bakal selama ini, but takdir berkata lain. Ternyata, semakin lama gue ngejalanin semakin banyak juga cekcok mulut antara gue sama doi. Tapi, semakin banyak juga kok sayangnya. Ea. 
         Gue tau, ngejalanin hubungan gak segampang yang gue pikirin. Apalagi kalo udah cekcok, hehehe terkadang gue harus nangis untuk nenangin diri gue sendiri:) Sebenernya, jalan keluar gue kalo udah gak bisa apa2 nangis. Apa lo semua sama? Hehehe. 
         Bulan Juni kemarin, ya tepatnya tanggal 28 Juni gue udah 11 bulan. Dan... i think 28 kemarin itu "bad 28 ever", ya kalian tau sendiri kenapa. Hari ini, bulan ini, lagi ngejalanin ke 12 bulan, dan.....banyak banget marahannya, gue aja sampe capek sendiri. But, ada aja yang bikin gue tetep stay. Kalo udah sayang itu lengket susah dilepasin. Walaupun sebenernya i'm totally give up, guys:))) Ah, sudahlah. Gue tetep sayang doi kok. 
         Hari ini, doi lagi ngelive:) Lo tau sendiri lah apaan hehehehehehe:) Gue lost contact dari siang, gue mencoba buat menghilang dari dia, gue mau tau apa dia bakal bbm gue duluan atau gak setelah dia bersenang-senang seharian. Hehe. Dia lupa sama gue:)
         Sebenernya...gue bingung. Should i give up and hide or should i stay and fight? Give me the best, show me the way, God. For sure, i hate this situation:" 
         Duh, fyi gue nulis ini nangis dalem hati:''

  
Last. To try or not to try? To give up or to keep doing it? To stay or to let go? Life is always about choice. Huh? 

Selasa, 02 Juli 2013

10 Things To Do When You're Bored!

How many hours can you possibly spend resting and sleeping? Boredom might seem like a blessing to people who are usually in a frenzied and hurried state, but after awhile it just becomes torture.  So how do you fight off the horror of having nothing to do day in and day out?

Here are 10 things to do when you’re bored at home:

1. Organize your closet
If you’re like most people, then you probably don’t spend a lot of time and effort into organizing your closet. As a result, your closet looks like a tornado has been hitting it since the dawn of time. Well, now that you have some hours on your hands, you can start changing all that.

2. Tidy up your entire room 
While on the subject of cleanliness and orderliness, you should probably go all the way and just clean your entire room. It’s probably looking like a miniature archaeological dig by now, especially if you haven’t been too diligent about keeping it spotless.

3. Read a novel
Unless you’re a book lover, reading a novel isn’t really the first thing you think of when you’re trying to figure out what to do when your bored at home. For a more interesting experience, try reading genres or themes you don’t typically attempt.

4. Paint your nails
Painting each of your nails a different color or design is sure to keep your attention for the better part of the day. While you’re at it, you might also want to try giving yourself a foot and hand scrub. Your hands and feet will certainly thank you for it.

5. Play a childhood game
This will definitely take you on a nostalgic trip.

6. Go see a movie
Go to the theater and see some of the newest movies.

7. Dress up as your favorite superhero
Don’t forget to take pictures!

8. Try out different hairstyles
Don’t do anything radical like cutting off all your hair. You’ll regret it. Lol.

9. Make homemade ice cream

10. Go swimming 
It's a great workout, and it's fun too.

Selasa, 18 Juni 2013

A Sweet Love Message

Sweet love words from my heart to yours:)

Dear you,
        I don't pretend what love is for everyone, but I can tell you what is for me. Love is knowing all about someone, and still wanting to be with them more than any other person. Love is trusting them enough to tell them everything about yourself, including the things you might be ashamed of. Love is feeling comfortable and safe with someone, but still getting weak in the knees when they walk into the room and smile at you. This is why, whether we are together or apart, you will always be the most important person in my life. Because for me, love is you:-)


Jumat, 24 Mei 2013

Happy Birthday, Me!

Hello everyone :)

Ypyyyyyy! im 14 now. Happy birthday, me. Orang pertama yang ngucapin........Aldo. Ya, rada terharu gimana gitu:'') Ngakunya sih dia kebangun pas jam 00:00 terus langsung ngucapin, ngakunya........ga tau deh kali aja dibantu alarm gitu, wkwkwk.

Jam setengah 5 gue mandi, dan sekitar jam 5 kurang 10 menit gue selesai mandi. Gue langsung masuk kamer buat ganti baju. Ternyata, di dalem kamer udah ada Mama, Papa, Unay, Aa, Teh Fitri. Kaget......mana gue belum pake baju:'')) Dan lalu...gue langsung dinyanyiin Happy Birthday sama semuanya. Pas Mama&Papa sent me birthday wishes, gue langsung nangis. Ga ngerti kenapa gue nangis. Ya kali gue terharu. Terus...gue langsung tiup lilin, dan lalu Mama&Papa nyodorin gue kotak kado gitu. Gue langsung cium mereka. 


Ini Kue sama Kadonya






Pas pagi gue dibuat seneng sama Mama&Papa, setelah gue dateng ke sekolah, gue langsung ga niat hidup. Semua orang malesin, langsung deh mood turun drastis. Lolisem, gatau lolisem masih kenal gue ngga. Ga ada satupun yang inget, yang ngucapin. Cuma Gina, Pipit, Enggar, Ratih yang masih inget sama gue. Oke deh cut gue ga mau ngurusin ini, orang yang lo harapin buat ngucapin itu ternyata.............hahaha, sedih. 
Dan, kesedihan gue bertambah disaat gue pikir ada sesuatu yang ga bisa gue lupain ternyata.....moment itu ga ada. Gue pikir, ulang tahun sekarang ga ada sesuatu-sesuatunya sama sekali. Sedih:')
Udah deh, gamau mikirin ini. 
Now, I just want to say a huge thank you to everybody who sent me birthday wishes. I've never ever had this amount of birthday messages and each one has made my heart grow a little bigger each time. I'm so so touched. Thank you so much guys. I woke up with a huge smile on my face.

Much love, xx<3


Kamis, 28 Maret 2013

:-)

"Halo ay. Pagiii. Bagaimana kabarmu hari ini? Kamu udah makan? Tidurnya nyenyak ga? Mimpi apa semalem? Kamu lagi apa?"
           Pertanyaan-pertanyaan di atas selalu terulang setiap hari di antara kita, apakah itu kau atau aku yang memulai duluan. Malah beberapa di antaranya sering ter(di)ulang pada hari yang sama. Apa aku bosan? Tidak. Aku tak pernah bosan untuk selalu ingin tahu keadaanmu setiap saat. Perasaan yakin di dalam diriku bahwa kau dalam keadaan baik selalu haus untuk diberi kepastian. Dalam hal ini, sepertinya intensitas yang terkesan monoton dan konstan tersebut tak pernah berujung pada rasa bosan. Ada perasaan yang terasa kuat dan besar yang mampu mengatasi sebentuk kebosanan itu. Perasaan yang sepertinya adalah muara dari rasa sayang, cinta, takut, cemas, dan gundah.
           Kau pernah bilang kalau kita ini saling mengagumi. Aduh, kadang aku merasa janggal, bisa-bisanya kamu kagum sama aku. Dalam pikiranku, yang ada hanya aku saja yang kagum padamu. Tapi tak apa, itu jadi suatu penghargaan terbesar yang pernah kuterima sepanjang masa hidupku. Dan aku yakin, rasa kagumu itu (aku pede berkata ini karena kamu sendiri yang mengakui) lahir saat pertama kali kita ngobrol.
           Apa yang ingin kuungkapkan rasanya sederhana. Aku hanya ingin berterima kasih sama kamu, karena aku dapat belajar banyak hal darimu. Dan rasa terima kasihku itu aku pikir kurang pantas kalo sekedar aku ucapkan secara lisan, sekalipun di hadapanmu, karena aku merasa rasa terima kasihku ini tak cukup hanya dimuat pada ucapan "terima kasih". Aku enggan mengucapkannya padamu. Bagiku, perasaan ini lebih tepat untuk diresapi. Rasanya ia melampui kata-kata. Aku hanya ingin kau tau sebenar-benarnya perasaanku melalu setiap putaran waktu yang kita lalui. Hingga akhirnya ia tak lagi dibungkus dalam kata-kata, namun menyublim dengan hidup, aku dan kamu.

Senin, 28 Januari 2013

You can say sorry a million times, say I love you as much as you want, say whatever you want, whenever you want. But if you're not going to prove that the things you say are true, then don't say anything at all. Because if you can't show it, your words don't mean a thing.

Minggu, 06 Januari 2013

Secret Admirer

Hi! Hari ini mau bikin short story nih judulnyaaa: Secret Admirer. Langsung aja!
Selamat membaca :-) Enjoy, guys :-)
Kelas sudah tampak penuh. Namun, Lotso masih belum kelihatan. Di kelas, sesekali aku memandang ke bangku milik Lotso yang berada di sebelahku.
          Lotso ke mana, sih? tanya aku dalam hati.
Sebuah kekhawatiran terbesit dalam pikiran ku. Sejak hari itu, di mana hatiku hancur memandang Rizky yang nyata-nyata nya memeluk Ivo di depannya, sejak saat itu aku merasa Lotso adalah laki-laki yang paling baik, bahkan super baik. Beruntung, saat itu Lotso sigap menarik tangan ku dan setengah menyeretnya menuju kantin dengan airmata yang menggenang di pelupuk mata. Jika tak ada Lotso, entah apa yang akan terjadi, mungkin Rizky akan bertanya-tanya melihatku menangis saat itu. Menangisi sesuatu yang nggak boleh Rizky tau.

"Lotso, nggak masuk ya, Mey?" tanya Inez yang tiba-tiba duduk di sampingku. Ya, di bangku yang biasa ditempati Lotso.
Aku mengangkat bahu.
"Kamu kenapa, Mey?" tanya Inez khawatir.
"Heh?" jawab aku seolah tersadar Inez sedang bertanya padanya.
"Kamu ngelamunin apa sih, Mey?" Inez mulai marah. "Kok kayaknya kamu nggak niat banget jawab pertanyaanku."
Aku nyengir kuda. "Hehehe....maaf ya Nez! Bukannya bengong, emang lagi nggak fokus aja."
"Yee...sama aja kali!"
"Minggir dong, Nez! Aku mau duduk, nih!" Kedatangan Lotso tak disadari oleh Inez maupun aku.
"Kirain kamu nggak masuk, So!" sahut Inez kemudian bangkit dari bangku Lotso dan kembali ke bangkunya.

Sepeninggal Inez, aku dan Lotso sama-sama terdiam. Kita berdua terlihat sangat canggung.
Hingga akhirnya bel sekolah berdentang, keduanya masih tetap diam.

"Selamat pagi anak-anak!" sapa Pak Nugi, guru Matematika di kelas ku.
"Pagi, Pak!!!" jawab anak-anak dengan koor.
"Buka buku paket kalian halaman 28!" perintah Pak Nugi. "Hari ini kita akan membahas mengenai Gradien."

Seisi kelas melaksanakan perintah guru itu.

"Di antara kalian, ada yang tahu, apa itu Gradien?" tanya Pak Nugi.
Lotso mengangkat tangannya.
"Ya, kamu!" tunjuk Pak Nugi pada Lotso.
"Gradien itu sama saja dengan kemiringan pak!" jawab Lotso dengan pasti.
"Ya, kamu benar!"
Aku memandang ke arah Lotso dan dia membalasnya dengan senyuman.

***

Saat istirahat, aku masih terpekur di bangku ku. Aku tak beranjak kemana pun. Rizky juga tidak mendatanginya seperti biasa, seperti saat Ivo belum kembali ke sekolah ini. Sedangkan Lotso, sejak lonceng sudah berdentang dia kabur entah kemana.

"Nggak istirahat, Mey?" tanya Inez.
Aku menggeleng lemah.
"Nunggu Rizky, yaah?"
Aku hanya mengangkat bahu tanpa bersuara.
"Kamu kenapa sih, Mey?"
Lagi-lagi aku hanya menggeleng, kali ini aku tersenyum pada Inez.
"Ke kantin aja yuk, Mey!" Inez menarik tangan ku dan aku tak menolaknya. Kita berjalan menuju kantin.

Saat melewati kelas Rizky, mataku menangkap sosok yang aku rindukan, Rizky. Aku melihat Rizky yang asyik berduaan dengan seseorang di sampingnya. Aku tak bisa melihat jelas siapa orang itu, namun instingku mengatakan orang itu adalah Ivo.
           Ivo.... ya pasti itu Ivo. batin ku yang masih sajak fokus pada Rizky.
           Duggg!
Karena terlalu fokus pada Rizky, aku tidak melihat jalan. Hingga akhirnya aku bertabrakan dengan seseorang.

"Aduh......sakit!!!!" erang ku.
"Kamu gapapa, Mey?" tanya Inez melihat pelipis ku yang sedikit memar.
"Mey, kalo jalan lihat depan, dong! Sakit ya?" tanya Lotso sambil memeriksa pelipis ku lalu mengajak ku ke ruang UKS.

Ini adalah kedua kalinya aku bertabrakan dengan Lotso dengan permasalahan yang sama. Rizky.
Aku cemberut, "nggak papa kok, So ntar juga sembuh," tolak ku sambil sesekali melirik Rizky dengan ujung matanya.
"Tapi tetap harus diobatin, Mey! biar nggak makin memar." 
Aku tak menjawab.
"Mey, kamu dengar aku, kan?!" Lotso membuyarkan lamunan ku.
"Hehh....iya....Apaa?" kataku terbata.
Lotso hanya tersenyum melihatnya.
"Kamu kenapa sih, Mey?" bisik Inez bertanya. "Dari tadi aku lihat kok nggak konsen, jelas-jelas Lotso segede itu ditabrakain juga,"
Aku memutar pandangan pada Inez yang berada di sebelahku dengan kening berkerut.
"Lain kali, kalo jalan lihat-liuhat ya!" pesan Lotso dengan mengacak-acak rambutku, lalu pergi.

***

Aku melangkah gontai. Hatiku terasa dicabik-cabik. Belum cukup Rizky menyakitiku dengan bermesraan di dalam kelas di depan matanya, kini ia tambah dengan kebersamaannya bersama Ivo di kamar yang selama ini hanya aku satu-satunya cewek yang diperbolehkan masuk.

"Semua udah berubah, Rizky udah menemukan seseorang yang ia sayang. Dan orang itu bukan aku." Aku duduk di sebuah ayunan di taman kompleks rumahku.

Aku menghela napas panjang. Aku menutup mata sembari menghirup udah malam yang mulai dingin. 

Sudah saatnya aku melupakan Rizky, janjiku dalam hati. Aku tersenyum. Perlahan, aku membuka mataku. Samar aku melihat sosok yang sedang berdiri di depan mataku sambil tersenyum.

"Lotsooo!!"
"Hai, Mey!" sapa Lotso dengan ramah.
"Hai..." balasku ragu. "Ngapain di sini, So?" tanya ku penasaran.
Lagi-lagi Lotso hanya tersenyum, kemudian duduk di ayunan di samping ku.
"Niatnya sih tadi mau main ke rumah kamu, Mey!" jawabnya enteng.
Aku mengerutkan kening "ke rumah ku?"
Lotso mengangguk. "ya... ke rumah kamu" matanya melebar meyakinkan. "Tiba-tiba aku kangen kamu!" jelasnya.

Sontak aku menoleh dan memandangnya tak percaya. Mata kita saling bertemu, saling bertatap. Aku dapat merasakan desiran lembut di hatinya ketika melihat mata bening Lotso dan senyumnya yang mempesona.

"Nggak usah bercanda, So!" pintaku dengan tertawa kecil.
"Aku nggak bercanda, Mey," balas Lotso yang masih mengalihkan pandangannya padaku. "Aku serius. Aku beneran kangen sama kamu, Mey!"
"Kamu kok diem, Mey?" tanya Lotso lirih.
Aku tersenyum malu. "Aku nggak tahu harus ngomong apa, So."
"Nggak usah dipikirin, Mey!"
Kening ku berkerut. "Maksud kamu?"
"Aku memang suka sama kamu. Sejak awal kita bertemu saat pertama kali aku menginjakan kaki ke kelas kita. Kamu pasti masih mengingatnya, bukan?"
Aku mengerjap.
"Tapi aku nggak pernah mengharap balasam darimu?" Lotso menatapku sekilas. "Aku bahagia dengan perasaank, aku bahagia bisa melihatmu selalu tersenyum, selalu tertawa, nggak murung seperti sekarang," lanjutnya.
"Aku nggak mau egois, Mey. Aku tahu, perasaan nggak bisa dipaksain, aku hanya ingin agar semuanya mengalir apa adanya. Dan untuk perasaan kamu ke aku, biar Tuhan yang menentukan!" Lotso mengayunkan ayunannya perlahan.
"Aku tahu apa yang membuatmu akhir-akhir ini terlihat murung dan nggak bersemangat. Satu yang pasti Mey, life must go on!"

***

Esok paginya di sekolah. "Lotsoooo....." seru ku di koridor sekolah.
Lotso menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, "Ya?" jawabnya.
Aku setengah berlari menghampiri Lotso. "Makasih yang semalem," ucapku lirih. Kali ini wajahku terlihat lebih segar dan bersemangat.
"Daaann....."
"Dan apa, Mey?" Lotso mengangkat alisnya.
"Dan kejujuran kamu, tentang yang kamu rasakan," aku tersenyum kecil. "Tapi untuk saat ini, seperti kata kamu, terkadang manusia sendiri sulit untuk bisa membaca perasaannya, begitu juga aku. Aku masih nggak tahu perasaanku seperti apa. Kita serahkan saja pada waktu, cepat atau lambat, semuanya akan terungkap."
"Aku paham maksud kamu kok, Mey!"
Aku tersenyum, lalu kita berjalan beriringan menuju kelas kita.

Lalu, Lotso mengacak rambutku lembut.